Tampilkan postingan dengan label Komik. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Komik. Tampilkan semua postingan

Minggu, 21 Oktober 2012

Neraka Lembah Tengkorak

SATU

Hujan lebat dan kabut tebal menutupi keseluruhan Gunung Merapi mulai dari puncak hingga ke kaki. Dinginnya udara tiada terkirakan. Dari malam tadi hujan mencurah lebat dan sampai dini hari itu masih juga terus turun. Suaranya menderu menegakkan bulu roma. Halilintar bergelegaran. Kilat sabung menyabung. Dunia laksana hendak kiamat layaknya.

Sabtu, 29 September 2012

Keris Tumbal Wilayuda

PROLOG

Suara beradunya berbagai macam senjata, suara bentakan garang ganas yang menggeledek diberbagai penjuru, suara pekik jerit kematiansera suara mereka yang merintih dalam keadaan terluka parah dan menjelang meregang nyawa, semuanya menjadi satu menimbulkan suasana maut yang menggidikkan!

Rabu, 19 September 2012

Dendam Orang Orang Sakti

SATU

Luka besar dibekas kutungan tangan kanannya itu membuat tenaganya semakin lama semakin mengendur. Kalau tadi dengan segala tenaga yang ada macam manusia dikejar setan dia melarikan diri dari pekuburan Djatiwalu itu, maka kini jangankan lari, berjalan melangkahpun dia sudah tidak sanggup. Tubuhnya terhuyung-huyung. Nafasnya megap­megap seperti mau sekarat! Saat itu dia berada ditepi sebuah jurang. Dalam larinya tadi dia tak memperhatikan lagi ke mana tujuannya sehingga di mana dia berada saat itu adalah satu tempat yang jarang didatangi manuisia. Sunyi senyap mencengkam menegakkan bulu roma. Matanya yang berkunang-kunang, pemandangannya yang semakin mengelam dan daya tenaga yang sudah habis sampai ke batasnya membuat tubuhnya tak ampun lagi jatuh terperosok ke dalam jurang ketika salah satu kakinya terserandung di bebatuan yang menonjol di tepi jurang.

Rabu, 25 Juli 2012

Maut Bernyanyi Di Pajajaran (Bagian I)

SATU


 Di bawah terik panasnya matahari di siang bolong itu maka bertiuplah angin kencang dan gersang. Debu pasir di pedataran beterbangan ke udara, memekat tebal, menutup pemandangan beberapa saat lamanya.
Suara siulan aneh yang melengking-lengking membawakan lagu tak menentu terdengar di lereng bukit di ujung pedataran. Siulan aneh ini seperti mau menerpa dan menumbangkan hembusan angin gersang yang datang dari pedataran.

Maut Bernyanyi Di Pajajaran (Bagian II)

ENAM


“Aha… Nyatanya seorang gadis molek! Pantas malu-malu unjukkan diri…!” Kata Wiro Sableng pula dengan tertawa lebar. Melihat kepada pakaian ungu yang dikenakan gadis itu segera pemuda ini mengenali bahwa gadis itu adalah anak murid Dewa Tuak.
“Gadis molek, ada apa kau menguntit aku sejak dari lereng bukit sampai ke jurang maut sana...?” bertanya Wiro.
Anggini, si gadis baju ungu, tak memberikan jawaban. Mukanya merah karena malu dan jengah. Wiro Sableng tertawa lagi dan berkata, “Mungkin ada mengandung suatu maksud tidak baik....“

Maut Bernyanyi Di Pajajaran (Bagian III)

SEBELAS


Lembah Limanaluk satu daerah yang jarang didatangi manusia. Daerah ini sunyi sepi, ditumbuhi pohon-pohon raksasa dan semak belukar lebat. Ke sinilah keempat manusia berkerudung itu membawa Rara Murni. Di hadapan sebuah kuil tua mereka berhenti dan menurunkan gadis itu yang sampai saat itu masih terus juga melawan dengan segala daya yang ada.
“Rara Murni, kalau kau tak banyak cingcong aku tak akan perlakukan kau dengan kekerasan...”
“Lepaskan aku!” teriak Rara Murni.
“Masuklah ke dalam kuil sana!”
“Tidak!” dan Rara Murni berusaha hendak lari namun tangannya segera kena dicekat.

Selasa, 24 Juli 2012

Maut Bernyanyi Di Pajajaran (Bagian IV)

ENAM BELAS


“Berhenti!”
“Tahan!”
Enam prajurit maju ke muka, enam ujung tombak ditujukan ke dada dan punggung manusia berpakaian putih itu.
“Siapa kau?!”
“Aku mau bertemu dengan Mahesa Birawa!”
“Keparat, aku tanya siapa, menjawabnya lain”, bentak prajurit itu.
Laki-laki itu menggeram dalam hati.

Senin, 16 Juli 2012

Empat Berewok Dari Goa Sanggreng (Bagian I)

SATU 


“Ini!” kata laki-laki berkumis melintang itu dengan suara kasar. ”Berikan sama dia! 
Aku harus terima jawaban hari ini juga, Kalingundil!! Kau dengar!?” Orang yang bernama Kalingundil mengangguk. Diambil surat yang disodorkan. 
”Kalau dia banyak bacot.....,” kata laki-laki berkumis melintang itu pula, ”bikin beres saja. Berangkat sekarang, jika perlu bawa Saksoko!” Kalingundil berdiri dan meninggalkan ruangan itu. Dan bila Kalingundil baru saja lenyap di balik pintu maka menggerendenglah Suranyali, laki-laki yang berkumis tebal itu. 
”Betul-betul perempuan laknat! Perempuan haram jadah!” Dibulatkannya tinju kanannya dan dipukulkannya meja kayu jati di hadapannya. 

Empat Berewok Dari Goa Sanggreng (Bagian II)

SEMBILAN 


“Kenapa kau terkejut....?” tanya Eyang Sinto Gendeng. “Kau takut?!” 
“Eyang mau bikin cilaka murid lagi?!” tanya Wiro Saksana bersiap-siap. 
Dan nenek itu tertawa lagi melengking-lengking. Dia mundur sampai tujuh tombak ke belakang. ”Pejamkan matamu, Wiro!” perintah Eyang Sinto Gendeng pula. 
”Tapi.... Eyang mau bikin apa?!” 
”Eeee.... kunyuk betul kau! Aku suruh pejamkan mata malah banyak tanya!! pejamkan matamu!” 
Wiro memejamkan matanya dengan ragu-ragu. Karena itu kedua mata itu dipejamkannya tidak rapat betul. 
”Biar rapat!” hardik Sinto Gendeng.