Selasa, 24 Juli 2012

Maut Bernyanyi Di Pajajaran (Bagian IV)

ENAM BELAS


“Berhenti!”
“Tahan!”
Enam prajurit maju ke muka, enam ujung tombak ditujukan ke dada dan punggung manusia berpakaian putih itu.
“Siapa kau?!”
“Aku mau bertemu dengan Mahesa Birawa!”
“Keparat, aku tanya siapa, menjawabnya lain”, bentak prajurit itu.
Laki-laki itu menggeram dalam hati.

“Tunjukkan kemah Mahesa Birawa. Kalau tidak antarkan aku kepadanya!”
“Manusia bau tengik! Kau kira kami ini budakmu?“
“Kau mata-mata Pajajaran ya?!” bentak prajurit yang paling kanan sekali. Ujung tombaknya kini digeser ke tenggorokan laki-laki asing itu.
“Kalian sontoloyo semua! Aku bicara baik-baik, dibalas dengan bentakan-bentakan! Sialan!”

Enam ujung tombak dengan serta merta bergerak ke muka. Laki-laki yang hendak menjadi bahan sasaran ujung senjata itu berkelebat cepat. Satu kali gebrakan saja maka mentallah keenam prajurit itu! Empat tergelimpang di tanah tak bangun lagi. Satu berdiri nanar, sedang yang satu sambil memegang perutnya yang kesakitan, masih sanggup berteriak memanggil kawan-kawannya. Maka dalam sekejapan mata saja puluhan prajurit dengan senjata terhunus sudah mengurung tempat itu, mengurung ketat laki-laki berpakaian serba putih. Obor-obor menerangi tempat itu dan jelaslah tampang manusia yang telah menggeprak enam prajurit tadi. Dia memandang berkeliling dengan air muka melontarkan senyum mengejek.

“Inikah tampangnya manusia-manusia yang hendak memberontak pada kerajaan....?” Laki-taki itu tertawa mengekeh.
“Kalian manusia dogol semua. Mau saja diperalat oleh segelintir manusia yang hendakkan kekuasaan secara keji! Kalau kalian kalah, kalian dan dipancung semua! Kalau kalian menang, kalian dapat apa?!”

Seorang laki-laki berbadan tinggi kekar dan berkulit hitam maju ke hadapan orang asing itu. Dia adalah seorang pelatih prajurit-prajurit yang hendak memberontak itu. Satu tangan bertolak pinggang, satu lagi menuding tepat-tepat ke muka si orang asing, dia berkata, “Kurasa kau masih belum buta untuk melihat kenyataan, di mana kau berada saat ini!”. Kata laki-laki tinggi besar itu.
Si orang asing masih tertawa seperti tadi, mengekeh mengejek. Si tinggi kekar yang merasa dihina dihadapan orang banyak dengan gemas sekali hantamkan tinju kanannya ke perut si orang asing.

Apa yang terjadi kemudian terlalu cepat untuk dilihat oleh mata orang banyak di tempat itu. Tubuh kepala
pelatih yang tinggi besar itu jungkir balik di udara dan jatuh punggung di tanah. Untuk beberapa lamanya tak dapat bergerak-gerak! Kesunyian karena terkejut dan keheranan hanya berlangsung beberapa ketika saja. Begitu terdengar seseorang berteriak maka menyerbulah puluhan prajurit itu. Suara beradunya senjata riuh dan kacau balau.

“Tahan!” Seorang prajurit berteriak. “Lihat! Kita menghantam sesama kita! Kunyuk itu sudah ada di sana!”
Dan ketika semua mata memandang ke jurusan yang ditunjuk maka kelihatanlah orang asing tadi berjalan seenaknya di sela-sela kemah prajurit!
Sewaktu dirinya diserang, secara bersama-sama tadi, laki-laki itu dengan kecepatan luar biasa jatuhkan diri di tanah dan lolos di antara selangkangan para penyerangnya. Keadaan malam yang gelap menolongnya untuk lolos dan melangkah seenaknya di sela-sela kemah.

Melihat bahwa orang yang mereka serang sudah berada di tempat lain, di samping terkejut tentu saja prajurit-prajurit itu menjadi geram sekali. Apa lagi kepala pelatih yang tadi dibikin menggeletak di tanah dalam satu kali gebrakan. Dia berseru memanggil prajurit-prajurit lainnya.

“Kurung bangsat itu! Kalau tak mungkin ditangkap hidup-hidup, cincang sampai lumat!” perintahnya. Kepala pelatih ini kemudian cabut kerisnya.
Sebelum menyerbu di antara anak buahnya dia memberi perintah pada seorang prajurit yang kebetulan berada di dekatnya, “Beri tahu hal ini pada Mahesa Birawa....!”

Di dalam kemah besar itu tengah berlangsung perundingan. Mahesa Birawa tengah berkata, “Besok Raden Werku Alit sudah berada di sini dan agaknya....“
Ucapan Mahesa Birawa terputus. Kepalanya berpaling ke kanan dan dari mulutnya keluarlah suara bentakan, “Pengawal! Apa kamu orang tidak tahu bahwa tidak siapa pun boleh masuk ke dalam kemah ini? Keluar.... !”
“Mohon maaf Raden… kata pengawal kemah seraya menjura dua kali. “Seorang prajurit memberitahukan bahwa terjadi kerusuhan di sebelah timur...”
“Kerusuhan....?!” Mahesa Birawa berdiri dari kursinya.
“Ya, seorang asing diketahui memasuki perkemahan. Ketika dikurung dan ditanyai dia melawan. Dia merubuhkan enam prajurit! Memukul kepala pelatih Suto Rande dan kini tengah dikeroyok oleh puluhan prajurit di bawah pimpinan Suto Rande!”

“Hanya seorang asing nyasar ke sini saja kalian tidak bisa membereskan?! Memalukan sekali!” kertak Mahesa Birawa. Tapi dalam hatinya dia sebagai seorang yang sudah berpengalaman dalam dunia persilatan memaklumi, kalau seseorang sanggup merubuhkan enam lawan sekaligus, bahkan memukul jatuh kepala pelatih prajurit ini suatu tanda bahwa dia bukanlah orang sembarangan, pasti mempunyai ilmu yang diandalkan. Tapi siapa adanya orang asing yang.berani datang seorang diri ke perkemahan itu, inilah satu hal yang ingin diketahui Mahesa Birawa.

Mahesa Birawa berpaling pada adipati-adipati yang ada dalam kemah itu dan berkata, “Harap maafkan. Aku terpaksa meninggalkan persidangan sebentar untuk membereskan keonaran...”
Semua Adipati menganggukkan kepala. Adipati Tapak Ireng berkata, “Mungkin sekali perusuh ini seorang mata-mata Pajajaran...”
“Boleh jadi” sahut Mahesa Birawa seraya menindak ke pintu kemah.
Dan saat itu pengawal kemah berkata, “Orang asing itu berkata bahwa dia ingin bertemu dengan Raden...”
“Dengan aku?” Mahesa Birawa menuding dadanya sendiri.
Pengawal mengangguk. Ini membuat Mahesa Birawa tambah ingin lekas-lekas mengetahui siapa adanya perusuh itu.

Pertempuran berkecamuk seru ketika Mahesa Birawa sampai ke sana bersama seorang prajurit. Prajurit ini hendak berseru tapi diberi isyarat oleh Mahesa Birawa agar diam saja. Akan disaksikannya dengan mata kepala sendiri beberapa jurus kehebatan pertempuran itu. Pekik dan jeritan terdengar hampir setiap saat. Setiap pekikan musti disusul dengan menggeletaknya tubuh seorang pengeroyok. Menurut taksiran Mahesa Birawa saat itu ada sekitar tiga puluh prajurit di bawah pimpinan Suto Rande yang mengeroyok si orang asing.

Diam-diam Mahesa Birawa mengagumi juga kehebatan orang asing itu. Masih muda belia, bertampang keren dan senjatanya sebuah tombak yang diputar seperti kitiran, menderu dan setiap saat meminta korban dari pihak pengeroyok! Mahesa Birawa tahu betul, tombak yang di tangan pemuda itu adalah tombak rampasan. Dan yang membuat Mahesa Birawa terpaksa leletkan lidah ialah meski dikeroyok puluhan manusia, si pemuda itu dengan seenaknya saja melayani sambil tertawa dan bersiul!

Beberapa orang lagi rubuh menggeletak dengan perut atau dada terluka parah disambar ujung tombak. Kemudian terdengar lagi satu pekikan dahsyat. Sesosok tubuh mental, jatuh tepat di hadapan Mahesa Birawa. Ketika diteliti oleh Mahesa Birawa ternyata sosok tubuh itu adalah sosok tubuh Suto Rande, kepala pelatih prajurit! Nyawanya sudah minggat dan pada keningnya kelihatan guratan angka 212…!

Angka ini sekaligus mengingatkan Mahesa Birawa pada keterangan kurir Raden Werku Alit tentang kematian Kalasrenggi secara aneh, digantung kaki ke atas kepala ke bawah dan juga ada angka 212 pada kulit keningnya! Tanpa menunggu lebih banyak korban lagi yang jatuh maka berserulah Mahesa Birawa!


***


TUJUH BELAS


“Aku Mahesa Birawa memerintahkan untuk hentikan pertempuran ini!”
Suara yang hampir menggeledek itu dengan serta merta menghentikan pertempuran. Prajurit-prajurit yang mengeroyok melompat ke luar dari kalangan pertempuran. Si pemuda asing masih berdiri di tempat dengan tombak di tangan. Teriakan Mahesa Birawa tadi membuat dia putar kepala ke arah datangnya suara itu. Dan sepasang matanya segera membentur sesosok laki-laki berbadan tegap berkumis lebat melintang, berpakaian bagus. Pada pinggangnya terselip keris.

Dalam hatinya pemuda itu menggumam.
“Hem... jadi inilah dia manusianya yang bernama Mahesa Birawa itu...”.
Selagi dia menggumam begitu laki-laki itu melangkah mendatanginya.
“Orang asing!” kata Mahesa Birawa dengan nada keren dan lantang. “Meski kau punya sedikit ilmu yang diandalkan, tapi di sini bukanlah tempat untuk memamerkannya!”
Si pemuda keluarkan suara bersiul. “Betul aku berhadapan dengan Mahesa Birawa saat ini...?” tanyanya.
“Kau siapa?!” membentak Mahesa Birawa.
“Namaku tertulis di kening anak buahmu itu!” si pemuda pendekar 212 menunjuk ke mayat Suto Rande.
“Hem... bagus kalau begitu!” Mahesa Birawa puntir kumisnya. “Kau yang membunuh Kalasrenggi, bukan?”
“Tidak! Aku hanya menggantungnya dan Tuhan kemudian mengambil rohnya....”.
Habis berkata begitu pendekar 212 Wiro Sableng tertawa mengekeh.
“Kau tahu Mahesa, manusia macam Kalasrenggi itu tak layak hidup lama-lama di dunia! Masih kebagusan ada kali untuk tempat pembuang mayatnya! Dan kau tahu... di atas bumi ini masih banyak manusia-manusia macam Kalasrenggi malahan lebih terkutuk dari Kalasrenggi yang musti dilenyapkan!”
Di sini bukan tempat pidato, budak hina!” bentak Mahesa Birawa.
“Oh, begitu…? Kalau demikian mari kita bicara empat mata Mahesa Birawa. Aku memang sudah lama mencari kau!”

Mahesa Birawa menyeringai. Kemudian kelihatan bagaimana mukanya menjadi kelam membesi.
“Kalau aku bicara dengan kau maka biar aku terangkan padamu bahwa kedatanganmu ke sini hanyalah untuk mengantar nyawa!”


Habis berkata demikian Mahesa Birawa hantamkan tangan kanannya ke muka. Setiup angin yang bukan olah-olah panasnya menggebubu ke arah pendekar 212! Pendekar 212 lompat tiga tombak ke atas. Angin pukulan lewat di bawahnya dan menghantam sebuah pohon kayu.
“Buum!”
“Kraak!”
Pohon itu bukan saja tumbang dilanda angin pukulan tapi juga berwarna hitam karena hangus! Kedua orang itu sama-sama terkejut. Pendekar 212 terkejut melihat kehebatan pukulan dan tenaga dalam lawan sedang Mahesa Birawa heran tidak menyangka kalau pukulannya itu dapat dielakkan dengan satu lompatan enteng ke udara!

Dengan penuh waspada Wiro Sableng jejakkan kedua kakinya kembali ke tanah.
“Mahesa Birawa,” katanya, “Soal pertempuran soal mudah. Mudah dimulai, mudah diakhiri. Tapi aku bilang, aku mau bicara dengan kau! Empat ma....”
“Budak hina! Siapa sudi bicara dengan kau!” potong Mahesa Birawa membentak.
Sekali lagi tangan kanannya dipukulkan ke muka. Kalau tadi dia hanya mempergunakan sepertiga dari tenaga dalamnya maka kini dialirkan ke dalam pukulannya itu setengah dari tenaga dalamnya! Namun untuk kedua kalinya pula Mahesa Birawa dibuat gemas karena Pendekar 212 berhasil pula mengelakkan serangannya yang dahsyat itu.
“Mahesa Birawa, apakah kau yang lebih tua tidak memberikan kesempatan padaku untuk bicara empat mata?!”tanya Wiro Sableng pula. Kesabarannya mulai terkikis dari hatinya.
Kalau saja dia tiada ingat pesan gurunya Eyang Sinto Gendeng pastilah saat itu juga dibalasnya serangan-serangan Mahesa Birawa tadi!


Untuk tidak terlalu kehilangan muka karena dua pukulannya berhasil dielakkan lawan maka berkatalah Mahesa Birawa, “Percuma saja kau bicara, toh nantinya nyawamu akan aku bikin merat juga dari kau punya badan!”
Pendekar 212 tertawa.
“Dengar Mahesa Birawa…” kata pendekar ini.
Rahang-rahangnya bertonjolan. Pelipisnya bergerak-gerak tanda dia menekan amarahnya dan berusaha mempertahankan kesabarannya. “Aku membawa pesan dari Eyang Sinto Gendeng…”
Maka terkejutlah Mahesa Birawa mendengar nama itu.
“Kau ini siapa kalau begitu?!” tanyanya.
“Siapa aku masih belum penting. Aku tunggu kau malam ini di bukit Jatimaleh. Seorang diri, Mahesa Birawa. Datanglah seorang diri....”
“Kau bisa bicara di sini!”


Pendekar 212 menggeleng. “Di bukit Jatimaleh...” desisnya.
“Aku bilang di sini!” bentak Mahesa Birawa. “Takutkah kau datang ke bukit itu malam-malam gelap begini? Atau mungkin takut pada dinginnya udara? Atau mungkin takut pada roh-roh manusia yang selama ini membayangimu....?!”
Mahesa Birawa kertakkan geraham. Dia memberi isyarat. Bersama puluhan prajurit yang ada di situ maka menyerbulah dia! Pendekar 212 melompat sampai setinggi tujuh tombak.
Dia berpegangan pada ujung sebuah cabang pohon, membuat satu kali putaran pada saat mana Mahesa Birawa lemparkan sejenis senjata rahasia.

Mahesa Birawa berseru tertahan ketika melihat senjata rahasianya membalik kembali menyerang dirinya sendiri. Dikebutkannya tangan kirinya. Senjata rahasia itu bermentalan, menghantam prajurit-prajurit di sekitarnya. Empat orang menggerang dan rebah ke tanah!
Bayangan Wiro Sableng lenyap namun masih terdengarsuara seruannya mengiangi anak telinga. “Bukit Jatimaleh, Mahesa! Malam ini. Ingat, seorang diri.... !”


***

DELAPAN BELAS


Bukit Jatimaleh tertetak tidak berapa jauh dari perkemahan pemberontak. Ketika Mahesa Birawa hendak meninggalkan perkemahan, beberapa prajurit menyatakan hendak ikut serta tapi Mahesa berkata, “Biar aku sendiri yang membereskan urusan ini! Kalian semua di sini bersiap siagalah. Perkuat penjagaan dan lipat gandakan prajurit-prajurit peronda!”

Cuaca malam di atas bukit Jatimaleh gelap gulita. Di langit tiada rembulan tiada bintang. Udara yang dingin mencucuki daging menyembilui tulang-tulang sampai ke sungsum.
Dalam kegelapan inilah kelihatan dua sosok tubuh berdiri berhadap-hadapan.
Yang satu membentak lantang.
“Cepat terangkan siapa kau adanya budak hina!”
“Ah... jangan bicara memaki terus-terusan Mahesa Birawa. Belum tentu aku lebih hina dari kau!” jawab Pendekar 212.

Marahlah Mahesa Birawa. Dia menggeser langkahnya ke muka. Tapi langkahnya segera pula terhenti ketika didengarnya pemuda di hadapannya berkata.
“Pesan Eyang Sinto Gendeng ialah agar kau segera kembali ke puncak Gunung Gede dalam waktu secepat-cepatnya!”
“Kembali ke puncak Gunung Gede.... ?!”
“Yeah... Untuk menerima hukuman atas perbuatan-perbuatan jahatmu sejak kau turun gunung tujuh belas tahun yang silam!”
“Jangan bicara ngaco belo! Ada hubungan apa kau dengan Eyang Sinto Gendeng?!”
Pendekar Kapak Maut Naga Geni 212 tertawa datar.
“Aku hanya pesuruh buruk saja, Mahesa....” jawabnya.
“Dusta!” bentak Mahesa Birawa menggeledek. “Kalau kau tak mau bicara yang sebetulnya jangan menyesal bila kepalamu kupuntir sampai putus!”
Wiro Sableng bersiul.
“Aku tak tahu segala urusan puntir kepala. Aku hanya menyampaikan perintah Eyang Sinto Gendeng agar kau menghadapnya di puncak Gunung Gede! Kau dengar Mahesa.... He... he... he....”
Jari-jari tangan Mahesa Birawa mengepal membentuk tinju.
“Aku ingin tahu saat ini juga. Apakah kau bersedia memenuhi perintah itu atau tidak…?”
“Aku tanya dulu! Apa hubunganmu dengan Eyang Sinto Gendeng? Jangan bikin kesabaranku habis!”
“Kurasa akulah yang mustinya kehabisan rasa sabar melihat tampangmu saat ini!” tukas Wiro Sableng.
“Katakan saja terus terang bahwa kau tak mau menghadap Eyang Sinto Gendeng! Itu lebih baik dan lebih jelas....!”


Mahesa Birawa busungkan dada. Katanya.
“Kalau orang tua geblek itu butuh ketemu dengan aku, suruh dia datang ke sini!”
Suara menggeram jelas terdengar di tenggorokan Pendekar 212. Mukanya kelam membesi. Tanah yang dipijaknya melesak sampai tiga senti!
“Bicaramu terlalu besar Mahesa Birawa! Terlalu pongah! Dosamu sendiri sudah lebih dari takaran! Hari ini kau hina gurumu sendiri! Guru yang bertahun-tahun telah memeliharamu, mengajarmu segala ilmu kepandaian! Guru yang telah kau nodai nama baiknya! Kau mengandalkan apakah, Mahesa Birawa.....?!“
“Bocah gila! Terpaksa mulutmu kurobek detik ini juga!” bentak Mahesa Birawa.
Secepat kilat, belum lagi habis bicaranya maka lima jari-jari tangan kanannya bergerak mencengkeram ke muka. Pendekar 212 tertawa. Tertawa dan bersiul. Bentakan nyaring menggeledek dari mulutnya dan dia lompat ke samping sambil hantamkan tangan kirinya. Mahesa Birawa terkejut ketika merasakan satu angin yang deras mendorong tubuhnya. Cepat-cepat dia pergunakan tangan kanan untuk memapasi dorongan angin itu tapi tak urung tubuhnya menjadi gontai juga! Maka kini keringat dingin memercik di kening laki-laki itu!

“Urusan kekerasan urusan mudah, Mahesa!,” kata Wiro Sableng. “Tapi bicaraku masih belum habis. Tujuh belas tahun yang lewat kau pernah malang melintang di Jatiwalu. Ingat.... ?”
“Pemuda sedeng! Darimana....”
“Ah... kau masih ingat! Bagus... bagus sekali! Apa kau juga ingat bahwa pada masa tujuh belas tahun itu kau telah membunuh Ranaweleng, Kepala Kampung Jatiwalu?! Apakah kau juga masih ingat bahwa pada masa itu kau juga merusak kehormatan seorang perempuan bernama Suci, isteri Ranaweleng, kemudian karena malu perempuan itu bunuh diri?! Apa kau juga masih ingat dan sanggup menghitung berapa banyak jiwa penduduk yang kau renggut, kau bunuh?!”
Mulut Mahesa Birawa terkatup rapat-rapat.
Dan pendekar 212 buka mulut lagi.
“Kalau aku tidak ingat pesan Eyang Sinto Gendeng, pada detik aku melihat tampangmu aku sudah bertekad untuk mengermus kepalamu! Kini setelah tahu bahwa kau tidak mau diperintahkan untuk menghadap ke puncak Gunung Gede maka tak ada lagi halangan bagiku untuk membalaskan dendam kesumat seribu karat, untuk membalaskan sakit hati yang berurat berakar sejak tujuh belas tahun yang lewat! Ketahuilah Mahesa Birawa, aku adalah anak Ranaweleng. Dan aku adalah juga murid Eyang Sinto Gendeng! Adik seperguruanmu sendiri, tapi yang akan memisahkan roh busukmu dengan tubuh bejatmu!” Habis berkata begini maka tertawalah pendekar 212. Suara tertawanya keras dan panjang, menegakkan bulu roma.

Bergetar hati Mahesa Birawa mendengar suara tertawa yang menegakkan bulu kuduknya itu. Terbayang olehnya masa tujuh belas tahun yang silam. Begitu cepat waktu berlalu dan tahu-tahu kini dia berhadapan dengan kenyataan yang pahit! Berhadapan dengan anak laki-laki dari suami isteri yang pernah menjadi korbannya. Seperti tak percaya dia akan kenyataan ini!
“Orang muda...!” kata Mahesa Birawa pula. Suaranya diperbawa dengan aliran tenaga dalam agar tidak kentara getaran hatinya. “Kuharap kau cepat-cepat saja bangun dari mimpimu dan tahu berhadapan dengan siapa...!”
Pendekar 212 tertawa lagi seperti tadi. Lebih seram malah! Dan didengarnya suara Mahesa Birawa, musuh besarnya itu berkata pongah.

“Jangankan kau... Eyang Sinto Gendeng sekalipun tak akan sanggup turun tangan terhadapku! Kalau kau teruskan niat edanmu, ketahuilah bahwa kedatanganmu sejauh ini dari puncak Gunung Gede hanyalah untuk mencari mampus sendiri!”
“Kita akan lihat Mahesa Birawa! Kita akan saksikan! Darah siapa di antara kita yang akan dihisap oleh tanah! Kau telah menentukan kematian ibu bapakku di siang hari! Disaksikan oleh langit siang dan matahari! Karena itu besok, bila matahari tepat sampai di puncak ubun-ubun, aku tunggu kau di atas bukit ini! Biar langit dan matahari yang dulu menyaksikan kematian ibu bapakku, besok menyaksikan pula kematianmu, menyaksikan pembalasan dendam kesumat seribu karat!”

Mahesa Birawa keluarkan suara mendengus.
“Aku bukan manusia yang bisa menunggu, apa lagi terhadap keroco macam kau! Tapi dengar orang muda... daripada kau mati tiada guna, aku ada usul baik bagimu. Ikut bersamaku menghancurkan Pajajaran, niscaya kau akan kuangkat kelak menjadi seorang pejabat berpangkat tinggi.... !”
Wiro Sableng bersiul.
“Aku tidak butuh usul, Mahesa Birawa, juga tidak butuh apa-apa. Saat ini aku hanya butuh roh busukmu! Besok siang di tempat ini. Mahesa. Darahmu atau darahku, nyawamu atau nyawaku!”
Maka kini Mahesa Birawa tidak dapat lagi menahan hatinya.
“Tak perlu tunggu sampai besok! Sekarang pun aku bersedia melayani! Terima pukulan seribu badai ini!”

Mahesa Birawa menerjang ke muka. Tangan kanannya memukul dan gelombang angin yang sangat hebat menderu menyambar ke arah pendekar 212. Yang diserang tanpa tunggu lebih lama berkelebat dan melompat setinggi tujuh tombak. Kedua kakinya tergetar dan linu ketika angin pukulan lawan dalam jarak setinggi itu masih sanggup menyapu kedua kakinya!
Dengan kerahkan setengah dari tenaga dalamnya Wiro Sabteng hantamkan tangan kanan ke bawah melancarkan pukulan Benteng Topan Melanda Samudera!
Mahesa Birawa berseru tertahan melihat datangnya angin laksana badai ke arahnya. Cepat-cepat dia melompat ke samping. Tubuhnya hampir terpelanting diserempet angin pukulan lawan. Dengan kerahkan tenaga dalamnya dia masih sanggup berdiri di tempat setelah mengelak tadi. Namun demikian kedua kakinya melesak sampai lima senti ke dalam tanah!
Dalam keterkejutan melihat kehebatan lawan Mahesa Birawa mendengar suara tertawa pendekar 212.
“Kutunggu besok siang Mahesa Birawa. Di sini,di puncak bukit ini! Satu hal perlu kukatakan. Besok aku menghadapimu bukan sebagai manusia bernama Mahesa Birawa, tapi sebagai Suranyali!”


Wiro Sableng berkelebat.
“Budak hina! Jangan lari!” teriak Mahesa Birawa alias Suranyali. Namun pendekar 212 sudah lenyap dari pemandangannya ditelan kegelapan malam.


***


SEMBILAN BELAS


Malam itu Mahesa Birawa tak dapat memicingkan mata. Dia gelisah sekali. Sebentar-sebentar di atas pembaringan dalam kemah dia membalik ke kiri, membalik ke kanan. Ingatannya mengawang kembali pada masa tujuh belas tahun yang silam.
Terbayang olehnya kematian Ranaweleng. Terbayang olehnya Suci, perempuan yang bunuh diri itu. Dan ketika ingatannya berpindah pada pemuda yang mengaku anak dari Ranaweleng itu, tubuhnya seperti dijalari hawa dingin. Meski sudah dapat mengukur kehebatan lawan namun Mahesa Birawa tidak takut sama sekali untuk menghadapi pemuda itu. Cuma kemunculan si pemuda yang tidak terdugalah yang benar-benar mengejutkan dan menyirapkan semangatnya.

Hati kecilnya mengutuki kebodohannya sendiri. Pada masa tujuh belas tahun yang silam itu dia tahu kalau Ranaweleng dan Suci mempunyai seorang putera. Kenapa dia tidak sekaligus membunuh orok Ranaweleng itu? Tapi saat itu tentu saja dia tidak mempunyai pikiran panjang seperti waktu sekarang ini.
Mahesa Birawa membalikkan tubuhnya kembali. Dia memandang ke dinding kemah. Dan pada dinding kemah itu seperti terbayang oleh matanya rentetan kalimat yang pernah dibacanya pada dinding tempat kediamannya tujuh belas tahun yang lalu yaitu ketika dia baru saja berhasil melarikan Suci dan memasukkannya ke kamarnya. Di sana... di dalam ingatan Mahesa Birawa alias Suranyali, seperti tertera kembali rentetan kalimat itu. Rentetan kalimat yang menjadi kenyataan:

“Apa yang kau lakukan hari ini akan kau terima balasannya pada tujuh belas tahun mendatang!”
Mahesa Birawa akhirnya turun dari pembaringan. Beberapa lama dia mondar mandir di dalam kemah besarnya itu. Kemudian teringat dia pada kematian Kalasrenggi dan dua orang mata-mata yang dikirim ke Kotaraja tempo hari. Mereka menemui kematian akibat turun tangannya seorang manusia aneh. Kalasrenggi mati dengan guratan angka 212 pada keningnya. Dan tadi dia juga saksikan sendiri kematian Suto Rande dalam cara yang sama! Kalau begitu sedikit banyaknya atau mungkin pasti... pasti sekali pemuda yang mengaku anak Ranaweleng itu, yang sesungguhnya adalah adik seperguruannya sendiri, pastilah mempunyai sangkut paut atau hubungan dengan Pajajaran. Dan kalau sudah begini berarti bocornya rencana untuk menggulingkan Prabu Kamandaka, bocornya rencana untuk memberontak terhadap Kerajaan!

Mahesa Birawa melangkah lagi mondar mandir sambil mengepalkan tinjunya. Dia harus bertindak cepat sebelum Pajajaran benar-benar tahu keseluruhan rencananya. Bukan mustahil saat itu balatentara Pajajaran tengah menuju ke perkemahan mereka untuk menyapu mereka!
Malam itu juga Mahesa Birawa berunding dengan kelima Adipati. Dan malam itu pula diputuskan untuk menggerakkan seluruh pasukan ke Kotaraja.

Dua orang kurir dikirim terlebih dahulu. Yang pertama untuk menemui Raden Werku Alit di Kotaraja, memberitahukan bahwa karena sesuatu hal yang mendesak maka pasukan diberangkatkan malam itu dan direncanakan untuk menggempur Pajajaran selambat-lambatnya satu dua jam sesudah fajar menyingsing! Kurir yang kedua berangkat menuju puncak Gunung Halimun, menemui Begawan Sakti Sitaraga yang sebelumnya telah mengatakan bersedia turun tangan membantu kaum pemberontak! Tapi kurir ini kemudian tertawan oleh prajurit-prajurit Pajajaran di perbatasan.

Meski tetap berhati bimbang akan kebenaran peringatan yang dibacanya di dinding kamar adiknya, namun Prabu Kamandaka tak urung menyiapsiagakan balatentara Pajajaran secara diam-diam. Dan ketika dini hari itu dia dibangunkan secara mendadak, dilaporkan tentang terlihatnya sepasukan besar mendatangi Kotaraja. Raja Pajajaran ini benar-benar menjadi kaget. Benar juga peringatan itu, katanya dalam hati. Kepada Kepala-Kepala Pasukan Kerajaan segera diberikan perintah kilat.

“Kalau pasukan yang datang itu adalah benar pasukan pemberontak, hadapi mereka di luar tembok Kerajaan!”
Manakala sinar fajar pertama memancar di ufuk timur maka pada saat itu pulalah mulainya berkecamuk pertempuran yang dahsyat di sepanjang tembok besar yang mengelilingi Kotaraja.
Yang paling seru adalah pertempuran pada dua buah pintu gerbang. Pihak pemberontak menyerang habis-habisan untuk dapat membobolkan pintu gerbang Kotaraja itu. Yang diserang bertahan mati-matian! Suara beradunya senjata, pekik kematian, lolong manusia-manusia yang terbabat senjata, bau anyirnya darah, semuanya menjadi satu menimbulkan suasana yang mengerikan.

Agaknya serangan lawan mulai tak dapat dibendung. Hal ini kelihatan sesudah pertempuran berkecamuk hampir setengah jam lebih.
Prabu Kamandaka dengan teriakan-teriakan hebat berkelebat kian ke mari memberi semangat pasukan Pajajaran. Prabu ini menunggangi seekor kuda putih dan di tangannya tergenggam sebilah golok panjang yang berlumuran darah!
Prabu Kamandaka seperti terpukau dan tak mau percaya akan kedua matanya ketika dia bergerak ke medan pertempuran sebelah timur, dia langsung berhadap-hadapan dengan Werku Alit, saudara sepenyusuan sendiri!

“Matakukah yang terbalik atau benarkah kau yang ada di hadapanku ini, Alit?” ujar Sang Prabu.
Raden Werku Alit tertawa membesi. “Matamu masih belum terbalik, Kamandaka! Cuma otakmu yang miring sehingga mengambil hak orang lain... !”
“Hak apakah yang aku telah ambil dan siapakah orang lain itu?!”
“Tahta Kerajaan adalah hak syah diriku, Kamandaka!” jawab Werku Alit garang.
Prabu Kamandaka tertawa dingin. “Kau mengigau di slang hari Alit! Tak kusangka, kau sendiri yang menjadi biang racun pentolan pemberontak yang memberikan perintah untuk mengeroyok Raja Pajajaran itu!”
Prabu Kamandaka dengan teriakan-teriakan hebat berkelebat kian ke mari memberi semangat pasukan Pajajaran. Prabu ini menunggangi kuda putih dan di tangannya tergenggam golok panjang yang berlumuran darah!
Agaknya serangan lawan mulai tak dapat dibendung. Hal ini kelihatan sesudah pertempuran berkecamuk hampir setengah jam lebih.

Yang diserang bertahan mati-matian! Suara beradunya senjata, pekik kematian, lolong manusia-manusia yang terbabat senjata bau anyirnya darah, semuanya menjadi satu menimbulkan suasana yang mengerikan.
Satu demi satu prajurit yang bertempur bersama rajanya itu gugur bergelimpangan. Keadaan Sang Prabu sangat kritis sekali sedang di sebelah barat balatentara pemberontak di bawah pimpinan Mahesa Birawa sudah hampir berhasil membobolkan pertahanan pintu gerbang!


***

DUA PULUH


Pada saat pertempuran berkecamuk dengan serunya, pada saat pintu gerbang Kotaraja di sebelah barat hampir bobol dan pada saat keselamatan Prabu Kamandaka sendiri terancam maka pada saat itulah terdengar suara yang keras laksana guntur mengatasi segala kecamukan perang yang mendatangkan maut itu!
“Manusia-manusia bodoh! Hentikan pertempuran ini!”

Hampir semua mereka yang bertempur di medan sebelah timur itu jadi terkejut dan hampir semua mata pula memandang ke atas tembok Kotaraja di mana kelihatan berdiri seorang pemuda berpakaian putih-putih berambut gondrong!

Mungkin sekali Raden Werku Alit adalah orang yang paling terkejut melihat pemuda di atas tembok itu. Manusia ini tampangnya sama betul dengan pemuda yang tempo hari ditotoknya sewaktu hujan-hujan di teratak tua!
“Orang-orang mati inginkan hidup, kalian yang hidup mau bertempur sampai mati! Goblok betul!” terdengar lagi pemuda yang di atas tembok berkata dengan suaranya yang mengguntur.

Werku Alit kertakkan rahang. Hatinya gusar terhadap si pemuda. Diam-diam dia tahu bahwa suara yang mengguntur itu pastilah menandakan bahwa si pemuda yang memiliki tenaga dalam yang sangat tinggi. Namun bila dia melirik ke samping dan detik itu melihat Prabu Kamandaka berada dalam keadaan lengah maka kesempatan ini dipergunakan Werku Alit dengan sebaik-baiknya. Senjatanya berkelebat cepat dan ganas. Satu ujung tajam dari toja menyambar ke leher sedang ujung yang lain menyapu ke kaki Prabu Kamandaka!

Melihat datangnya serangan itu Prabu Kamandaka sadar akan keteledorannya berbuat lengah. Sangat terlambat baginya untuk dapat mengelakkan senjata lawan yang menyerang dua tempat itu sekaligus. Salah satu ujung tajam dari senjata lawan pastilah akan mengenai badannya. Prabu Kamandaka lemparkan diri ke belakang meski dia tahu bahwa kakinya akan disapu ujung toja lawan. Tapi pada saat itu pula dari atas tembok melesat satu benda putih sekali laksana bercahaya. Benda ini berbentuk bintang dan mengeluarkan suara mendesing, menghantam pertengahan toja Werku Alit dengan tepatnya. Toja itu patah dua. Salah satu patahannya menggores dada Werku Alit sendiri!

Laki-laki ini menjerit kesakitan dan lompat mundur namun diburu dengan sebat oleh Prabu Kamandaka. Dalam keadaan terluka, bersama orang-orangnya Werku Alit bertahan dengan hebat. Dua Adipati lainnya yang melihat terdesaknya Werku Alit segera berikan bantuan sehingga Prabu Kamandaka dan orang-orangnya kembali terdesak hebat!

Werku Alit mengamuk dahsyat. Mengamuk dengan patahan tojanya. Namun keadaan dirinya mulai payah akibat luka yang dideritanya. Gerakan-gerakannya mulai menjadi lamban sehingga dia terpaksa mengambil posisi bertahan dan membiarkan pembantu-pembantunya menyerang pihak lawan.

Adipati Tapak Ireng mendekati Werku Alit dan sodorkan sebuah pil.
“Telanlah cepat Raden Alit dan alirkan tenaga dalammu ke bagian yang terluka....”
Werku Alit cepat-cepat telan pil yang berwama hitam itu lalu kerahkan tenaga dalamnya. Obat yang diberikan oleh Adipati Tapak Ireng memang manjur sekali. Sesaat kemudian darah pada luka Werku Alit berhenti dan tiada terasa sakit lagi. Maka dengan cabut kerisnya Werku Alit kembali maju menghadapi Prabu Kamandaka. Ketika Adipati Lanabelong dengan ruyung besi putihnya turut pula membantu Werku Alit maka lebih buruk dari tadi keadaan Prabu Kamandaka kembali terdesak hebat.

“Kaum pemberontak! Hentikan pertempuran ini!” teriak orang yang di atas tembok.
Tapi tak ada yang memperdulikan malah Adipati Jakaluwing dari Karangtretes menantang.
“Orang gila berambut gondrong kalau mau rasakan toja besiku, turunlah!”
Orang di atas tembok menggerutu penasaran. Dari balik pinggangnya dikeluarkannya sebuah kapak bermata dua! Mata kapak itu berkilat-kilat ditimpa sinar matahari pagi. Kemudian dengan satu gerakan yang sangat enteng dia melompat turun. Dan begitu sampai di tanah ditempelkannya ujung gagang kapak ke bibirnya. Maka sesaat kemudian menggemalah suara seperti seruling. Mula-mula pelahan, kemudian makin keras dan melengking-lengking!

Telinga pihak pemberontak yang mendengar suara lengkingan seruling itu seperti ditusuk-tusuk sakit sekali. Prajurit-prajurit rendahan menjadi terpukau dan dengan mudah menjadi korban senjata prajurit-prajurit Pajajaran! Werku Alit dan lima Adipati sekutunya terkejut ketika merasa bagaimana sakitnya telinga mereka sedang jalan darah mereka tidak lagi teratur tapi sesak tersendat-sendat. Dan ketika mereka memandang berkeliling mereka melihat bagaimana pasukan mereka di bagian medan mayat prajurit dengan dada mandi darah!

Werku Alit dan Adipati-Adipati yang masih hidup terkejutnya bukan main. Serangan mereka di samping dijuruskan kepada Prabu Kamandaka kini juga dititikberatkan pada Wiro Sableng! Namun bila sekali lagi Kapak Naga Geni 212 berkelebat maka kini giliran Adipati Jakaluwing pula yang meregang nyawa dengan kepala hampir terbelah dual
Werku Alit dan Adipati-Adipati yang masih hidup menjadi kecut. Mereka saling berlirikan tajam dan beri isyarat namun pada saat itu pula pendekar 212 yang sudah tahu maksud mereka membuat gerakan cepat. Rujung besi Ranabelong mental puntung dua ke udara disusul dengan jerit kematiannya!
Satu-satunya Adipati yang masih hidup yaitu Warok Gluduk boleh dikatakan sudah tak ada daya lagi sesudah lengan kanannya tadi dibabat puntung oleh Prabu Kamandaka. Dia memutuskan untuk kabur saja tapi tombak seorang kepala pasukan Pajajaran lebih dahulu menancap di punggungnya terus menembus sampai ke dada!

Nyali Werku Alit semakin luntur menciut. Di medan pertempuran sebelah timur itu hanya dia sendiri kini yang menjadi pucuk pimpinan. Kalau tadi dia dan anak-anak buahnya merupakan pihak penyerang yang mendesak maka kini keadaan terbalik! Dimana-mana puluhan prajurit-prajuritnya bergeletakan mati. Yang masih hidup bertempur dengan setengah hati, mundur terus-terusan dan kacau balau! Suara seruling Kapak Naga Geni 212 yang terus menerus melengking seperti melumpuhkan sekujur tubuh Raden Werku Alit. Dicobanya mengerahkan tenaga dalamnya namun tenaga dalamnya terasa laksana punah! Telinganya sakit dan kemudian dirasakannya ada yang meleleh pada kedua liang telinganya itu! Darah!


***


DUA PULUH SATU


Mahesa Birawa yang ada di medan pertempuran sebelah barat, yang saat itu sudah hampir berhasil mendesak pasukan Pajajaran dan membobolkan pintu gerbang pertahanan menjadi terkejut ketika selintas kepalanya dipalingkan ke arah timur! Pasukan pihaknya di jurusan ini dilihatnya bertempur dengan kacau, malah sebagian besar mundur terdesak hebat! Beberapa kelompok pasukan bahkan dilihatnya melarikan diri kucar kacir! Dan diantara semua apa yang disaksikannya itu sayup-sayup telinganya mendengar lengkingan suara seruling! Jaraknya dengan medan pertempuran sebelah timur terpisah puluhan tombak tapi suara seruling itu seperti menerpa-nerpa kulit tubuhnya, menyendatkan jalan darahnya dan menyakitkan anak telinganya. Dan saat demi saat jumlah prajurit yang bertempur di medan sana itu semakin berkurang juga, banyak yang lari dan banyak yang tergelimpang mati!

Mahesa Birawa serahkan pimpinan kepada seorang kepala pasukan yang dipercayainya. Kemudian dengan gerakan sebat dia menuju ke medan pertempuran sebelah timur. Begitu sampai di medan pertempuran ini dia disambut oleh satu pemandangan yang cukup membuat bulu kuduknya merinding.

Saat itu, Raden Werku Alit sudah terdesak hebat dan tak sanggup mengelakkan sambaran pedang Prabu Kamandaka. Dalam jarak yang jauh Mahesa Birawa masih berusaha untuk membokong Prabu Kamandaka dengan pukulan tangan kosong. Namun angin pukulannya yang dahsyat itu diterpa hebat oleh satu gelombang angin ganas dari samping! Ketika dia berpaling maka sepasang matanya membentur pemuda yang tak asing lagi baginya.

Maka membentaklah Mahesa Birawa. Namun bentakannya belum lagi keluar, tahu-tahu satu benda menggelinding ke arah tempatnya berdiri, dan ketika diperhatikan benda itu adalah kepala Raden Werku Alit yang sesaat sebetumnya lehernya kena ditebas pedang Prabu Kamandaka!

Kemarahan Mahesa Birawa tiada terperikan. Dengan keris di tangan kanan dan gada berduri yang mempunyai tiga mata rantai berduri pula dia menyerbu ke hadapan Prabu Kamandaka!
Namun setiup angin dahsyat memotong serangannya itu dari samping. Dan ketika dia berpaling ternyata lagi-lagi pemuda itu yang menghalanginya!

“Aku lawanmu, Mahesa Birawa!” teriak pendekar 212 dengan bola mata bersinar-sinar.
“Kutunggu kau di bukit Jatimaleh!”
“Budak hina! Kuburmu adalah di antara tumpukan mayat di tempat ini juga!” bentak Mahesa Birawa.
Sementara itu Prabu Kamandaka yang tahu bahwa yang tadi hendak menyerangnya adalah tokoh pemberontak kaki tangan Werku Alit yang berbahaya segera berteriak berikan perintah.
“Kurung bangsat-bangsat pemberontak ini!”

Dua lusin prajurit, tiga kepala pasukan dan Prabu Kamandaka sendiri segera mengurung Mahesa Birawa. Namun pada saat itu pula Wiro Sableng melompat ke muka dan berseru.
“Prabu Kamandaka! Kau memang punya hak untuk menangkap dan membunuh manusia ini karena dia adalah pentolan pemberontak musuh Pajajaran! Tapi aku merasa lebih punya hak untuk membereskannya karena dialah pembunuh ayahku dan penyebab kematian ibuku! Serahkan dia padaku Prabu Kamandaka!”
Raja Pajajaran meski amarahnya hampir tak dapat dikendalikan lagi, tapi mendengar ucapan Wiro Sableng itu menahan juga serangannya dan bertanya, “Orang muda gagah, kau siapakah?!”


Wiro Sableng senyum sedikit. Diacungkannya kapak yang di tangan kanannya. Dan pada kedua mata kapak itu jelas kelihatan tiga rentetan angka. 212! Terkejutlah Sang Prabu!

Tak disangka pemuda itulah kiranya manusia aneh yang telah memberikan peringatan kepadanya sebelumnya tentang akan pecahnya pemberontakan. Tahu kalau si pemuda gagah betul-betul berada di pihaknya sendiri maka Prabu Pajajaran itu tidak keberatan mengabulkan permintaan Wiro Sableng. Dia beri isyarat agar prajurit-prajuritnya mundur kembali.
Sementara itu boleh dikatakan pertempuran sudah hampir berakhir. Balatentara pemberontak yang kini tidak berpimpinan lagi sudah mundur jauh dari tembok Kerajaan dan terus dikejar oleh pasukan Pajajaran sehingga lari kucar kacir. Dan di antara gelimpangan mayat manusia di atas tanah yang banjir darah, di udara yang masih hangat oleh baunya maut maka berhadapanlah dua musuh besar, Pendekar Kapak Maut Naga Geni 212 dengan Suranyali alias Mahesa Birawa!

Pendekar 212 baru saja pasang kuda-kuda dan melintangkan kapak Naga Geni di muka dada ketika dengan membentak dahsyat Suranyali menerjang ke muka. Keris menusuk ke kepala dan gada rantai berduri menyapu ke perut!

“Ciaat!”
Wiro Sableng tak kalah sebat. Tubuhnya berkelebat, Kapak Naga Geni berputar dahsyat menimbulkan gelombang angin dan mengeluarkan suara mengaung laksana suara ratusan tawon! Gelombang angin itu sekaligus membentur senjata-senjata Suranyali membuat kedua tangan-tangannya laksana kena dipukul mental!
Suranyali alias Mahesa Birawa kini tidak bisa bertempur tanggung-tanggung lagi. Seluruh tenaga dalamnya dikerahkan dan untuk kedua kalinya dia menyerbu ke muka!
Serangan kali ini lebih dahsyat dari yang pertama namun pendekar 212 menunggu dengan tenang!

Setengah tombak tubuh lawan mengapung ke arahnya Wiro Sableng sapukan Kapak Maut Naga Geni ke muka dalam jurus Orang Gila Mengebut Lalat. Suranyali merasakan badannya seperti membentur dinding yang tak kelihatan! Dengan andalkan ilmu mengentengi tubuh yang sudah sempurna sekali, laki-laki ini lompat ke samping. Kapak Naga Geni melesat di bawahnya dan pada detik itu pula Suranyali kembali menukik dan babatkan gada berdurinya!
Yang diserang sama sekali tidak mau mengelak, tapi putar Kapak Naga Geninya di atas kepala. Maka dua senjata bentrokanlah dengan hebat, mengeluarkan suara nyaring!

Kapak Naga Geni memancarkan bunga api, dua dari rantai besi berduri yang bergandul pada gada berduri di tangan kiri Suranyali putus! Membuat pemiliknya jadi terkejut sekali! Dan dalam saat itu pula laksana topan Kapak Naga Geni membalik membabat ke arah selangkangannya! Suranyali berseru keras dan jungkir balik di udara! Keringat dingin mengucur di kuduknya!
Prabu Kamandaka leletkan lidah melihat pertempuran yang hebat itu.
Dalam waktu yang singkat kedua orang itu telah bertempur dua puluh jurus! Dan kentara sekali bagaimana kini Suranyali alias Mahesa Birawa mulai mendapat tekanan-tekanan hebat! Dan pada saat laki-laki ini terpaksa buang penggada berdurinya karena senjata itu dibabat puntung oleh kapak lawan!

Dengan penasaran Suranyali cabut senjatanya yang lain yaitu sebuah tongkat besi yang ujungnya bercagak dua. Tongkat besi ini memancarkan sinar kehijauan tanda bukan senjata sembarangan dan menggndung racun yang hebat! Dengan keris di tangan kanan dan tongkat besi bercagak di tangan kiri berkelebatlah Suranyali. Kedua senjatanya memancarkan sinar dahsyat yang membungkus lawannya.
Namun yang dihadapi Suranyali saat itu bukan manusia berilmu rendah dan bukan pula yang bersenjatakan senjata biasa! Kapak Naga Geni 212 menderu-deru mengaung mengeluarkan sinar putih menyilaukan. Tubuh kedua orang itu hanya merupakan bayang-bayang saja dan tiba-tiba terdengar teriakan Suranyali. Keris di tangan kanannya terlepas mental patah dua. Kalau saja dia tidak cepat-cepat tarik tangan kanannya pastilah tangan itu kena pula dibabat kapak lawan!

Suranyali melompat ke luar dari kalangan pertempuran! Mukanya memucat laksana salju! Cepat-cepat dia atur jalan nafasnya. Ketika dia melangkah ke muka maka kelihatanlah tangan kanannya sampai ke pangkal siku berwarna sangat hijau dan bergetar.
“Pemuda hina dina! Kau lihat lengan kananku ini?!” tanya Suranyali sambil acungkan tangan kanannya. “Tujuh belas tahun yang lalu bapakmu meregang nyawa oleh pukulan Kelabang Hijau-ku! Kini anaknya akan menerima bagian yang sama pula!”


Wiro Sableng tahu. kalau tujuh belas tahun yang lalu musuh besarnya itu telah memiliki ilmu pukulan Kelabang Hijau itu maka kini kehebatannya tentu tak dapat dibayangkan. Namun hal ini sama sekali tidak menggetarkan hatinya! Kapak Naga Geni 212 dipindahkan ke tangan kiri dan tiga perempat bagian tenaga dalamnya dialirkan ke tangan kanan. Dan kelihatanlah tangan kanan itu menjadi sangat putih sedang kuku-kuku jarinya bersinar memerah menyilaukan!

Terkejutlah Suranyali melihat hal ini. Hatinya tergetar. “Pukulan sinar matahari…”, desisnya. Pendekar 212 tertawa menggumam. “Silahkan mulai dahulu, Suranyali...”, katanya menantang! Diam-diam Suranyali alirkan teluruh tenaga dalamnya ke lengan kanan. Mulutnya komat-kamit. Kedua kakinya amblas lima senti ke dalam tanah yang basah oleh genangan darah. Dan sambil lompat sembilan tombak ke atas kemudian laki-laki ini hantamkan tangan kanannya ke muka!

Pendekar 212 tetap tak bergerak di tempatnya. Sinar hijau dari pukulan lawan melesat ke arahnya dan disambutinya dengan pukulan tangan kanan! Dua pukulan dahsyat beradu di udara mengeluarkan suara berdentum! Sinar hijau dan putih saling nyambar dan memecah ke samping! Pekik jerit dari orang-orang yang berdiri di tepi kalangan pertempuran terdengar dimana-mana. Tubuh mereka tergelimpang mati.
Ada yang menjadi hijau akibat racun pukulan Kelabang Hijau Suranyali dan banyak yang menjadi hangus hitam tersambar pukulan sinar matahari Wiro Sableng! Prabu Kamandaka sendiri jika tidak cepat-cepat melompat pastilah akan menjadi korban pula!


Ketika dua sinar itu beradu keras Suranyali merasakan badannya menjadi panas.
”Celaka!” keluhnya.
Pukulannya kelabang Hijaunya bukan saja musnah oleh pukulan lawan tapi juga kena dihantam dikembalikan ke arah kedua kakinya. Cepat-cepat laki-laki ini ambil sebuah pil dari sabuk di pinggangnya dan menelannya. Kemudian sesaat sesudah itu laksana seekor elang dia menukik ke bawah, tusukan besi bercagaknya ke leher Wiro Sableng. Wiro memapasi dengan kapaknya. Suranyali coba menjepit gagang kapak dengan gagakan besi. Tapi “trang!”

Sekali kapak itu berkiblat maka patahkan senjata Suranyali. Sebelum dia sempat menjejakkan kaki di tanah, sebelum dia sanggup menjauhi lawan maka Kapak Naga Geni 212 menderu lagi kali ini tiada ampun membabat kuntung bahu kanan Suranyali! Laki-laki ini melolong seperti srigala haus darah!
Tubuhnya limbung menghuyung!

Wiro Sableng tertawa mengekeh.
“Itu dari ayahku, Suranyali!” katanya.
“Dan ini dari ibuku!” Kapak Naga Geni berkiblat lagi. Suranyali coba menghindar dengan segala daya tapi tak berhasil. Bahu kirinya terpapas mental. Darah menyembur! Sungguh mengerikan menyaksikan tubuh Suranyali yang tanpa lengan itu!
“Yang ini dari Eyang Sinto Gendeng, Suranyali!” kata Wiro Sableng pula dengan masih tertawa mengekeh seperti tadi. Kapak Naga Geni sekali lagi menderu. Tubuh Suranyali mental tersandar ke tembok Kerajaan! Dadanya sampai ke perut robek besar. Darah membanjir dan ususnya menjelajela. Pendekar 212 masih belum puas.

“Yang terakhir ini dariku sendiri, Suranyali!” katanya.
Ketika Kapak Maut Naga Geni 212 itu membelah kepala Suranyali alias Mahesa Birawa itu, tiada terdengar pekikan atau keluh kematian dari mulutnya.
Tubuhnya masih tersandar sesaat lamanya pada tembok Kerajaan, kemudian merosot ke bawah dan tergelimpang di atas mayat-mayat pemberontak lainnya. Tapi tubuh itu tak berada lama menggeletak di sana. Sekali kaki kanan Wiro Sableng menendang maka mentallah tubuh musuh bebuyutannya itu sampai belasan tombak!

Wiro Sableng tertawa mengekeh, lama dan panjang. dimasukkannya Kapak Naga Geni 212 ke balik pinggangnya. Kemudian seperti tak ada kejadian apa-apa, seperti dia bukan berada di antara hamparan ratusan mayat, pemuda ini melangkah seenaknya bahkan dengan bersiul!
“Saudara muda!” Prabu Kamandaka memburu. “Tunggu dulu.... !”

Pendekar 212 berpaling.
“Ah.... Aku sampai lupa minta diri padamu Prabu Kamandaka....”
“Saudara, kau tak boleh pergi dulu...”
“Kenapa?”
“Ikutlah ke istana. Kau telah berjasa besar dan....”
“Jasa hanyalah jasa Sang Prabu. Hanya sekedar kenang-kenangan indah. Bagiku jasa tidak berarti mengharapkan balas imbalan. Selamat tinggal....”

Prabu Kamandaka memegang bahu pemuda itu. “Kuharap kau sudi datang ke istana terlebih dahulu, saudara” katanya.
“Terima kasih Sang Prabu, terima kasih....” sahut pendekar 212.
“Kalau begitu beri tahu saja namamu....”
Wiro Sableng tersenyum.

“Namaku tidak penting Sang Prabu. Cuma ingatlah angka 212. Mungkin suatu ketika angka itu akan kembali lagi ke Pajajaran ini.... Dan satu hal.... Jangan lupa sampaikan salamku buat adikmu.... Rara Murni....”
“Akan kusampaikan” kata Prabu Kamandaka pula. Dan semua mata kemudian menyaksikan kepergian pendekar muda itu. Prabu Pajajaran akhirnya geleng-geleng kepala dan tarik nafas panjang.
“Pemuda hebat.... pemuda gagah....,” katanya. “Pajajaran berhutang besar kepadamu. Jasamu tak akan dilupakan sampai turun temurun....”.


TAMAT



WIRO SABLENG
PENDEKAR KAPAK MAUT NAGA GENI 212

KARYA :

BASTIAN TITO
MAUT BERNYANYI DI PAJAJARAN

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar